Solidaritas Tanpa Batas: Jajaran pengurus dan tim panitia lokal dari Biro Hubungan Antar Lembaga PGRI Jawa Timur berfoto bersama di atas panggung Gedung Graha Dwija PGRI Kabupaten Sidoarjo seusai sukses mengawal jalannya operasional teknis Seminar Internasional secara hibrida.
SIDOARJO, pgrijatim.org – Lebih dari 2.400 pendidik, praktisi, dan aktivis organisasi profesi guru dari berbagai belahan dunia memadati ruang digital dalam perhelatan akbar International Seminar by PGRI yang digelar secara hibrida pada Jumat, 10 Juli 2026. Mengusung tema krusial “Cross-Cultural Understanding: Education and Teachers’ Union”, forum global yang dipusatkan dari Gedung Graha Dwija PGRI Kabupaten Sidoarjo ini menyita perhatian publik internasional karena membedah secara langsung program strategis serta tantangan sosiologis guru di ranah global.
Ketua PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., selaku Keynote Speaker, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pembicara internasional, partisipan, dan khususnya tim panitia penyelenggara dari Biro Hubungan Antar Lembaga Dalam dan Luar Negeri PGRI Jawa Timur yang berhasil menakhodai acara berskala masif ini.
Senada dengan hal tersebut, Ketua PGRI Jawa Timur yang juga bertindak sebagai Keynote Speaker, Dr. Djoko Adi Walujo, S.T., M.M., DBA, mengungkapkan rasa bangganya atas antusiasme yang luar biasa ini. Beliau menegaskan bahwa forum internasional semacam ini akan terus dirutinkan secara bergilir di berbagai kabupaten/kota lain di wilayah Jawa Timur guna meningkatkan kesadaran global (global awareness) para guru lokal.
Pemaparan materi inti menyajikan potret komparatif yang tajam mengenai dinamika pendidikan global melalui sudut pandang serta tajuk program resmi para pembicara ahli:
Acara yang dipusatkan secara hibrida dari Gedung Graha Dwija PGRI Kabupaten Sidoarjo ini menyajikan potret komparatif yang tajam mengenai realitas geopolitik pendidikan global:
Indonesia (National Excellence Program): Fransisca Susilawati memaparkan program inovatif bertajuk “PGRI: Empower, Inspire, Impact”. Program keunggulan nasional ini menargetkan pencapaian masif bagi guru-guru di Indonesia, meliputi program Coding & AI untuk lebih dari 1 juta guru, gerakan GEMAR Teachers (pembelajaran maraton) bagi 4.000+ guru, optimalisasi PINTAR Teachers lewat media siniar (podcast), pembentukan 500+ AI-Empowered Teachers khusus untuk pendidik perempuan, kompetisi STEAM, hingga 200+ proyek inovasi. Langkah taktis ini mempertegas peran PGRI dalam pilar utamanya sebagai organisasi perjuangan yang menjembatani profesionalisme, kreativitas, dan penguasaan teknologi untuk masa depan pendidikan.
Malaysia (Studi Kasus Asimilasi Multikultural): Norzah Muhamad membawakan materi studi kasus mendalam mengenai gerakan “Go Public: Fund Education” Campaign. Beliau menyoroti pentingnya peran serikat guru NUTP Malaysia dalam memperkuat harmoni sosial, menumbuhkan kewarganegaraan global, serta membangun komunitas pembelajaran yang inklusif di tengah ekosistem siswa yang berlatar belakang multietnis (Melayu, Tionghoa, dan India) agar perbedaan budaya menjadi fondasi masyarakat yang harmonis.
India (Inklusivitas di Tengah Keberagaman): Pansy Francis, selaku Educational District President KPSTA, membedah topik “Teachers’ Unions and Inclusive Education in a Diverse Society”. Beliau memaparkan peran krusial serikat guru dalam mengatasi ketimpangan pendidikan, keragaman linguistik (bahasa), serta inklusi gender guna membuka akses pendidikan berkualitas yang merata di seluruh wilayah dan komunitas terpencil di India, sekaligus memperjuangkan hak-hak kesejahteraan dasar para pengajar di akar rumput.
Filipina (Gerakan Front Terdepan Advokasi Guru): Steph Andaya, selaku Sekretaris Jenderal All U.P. Academic Employees Union sekaligus perwakilan Alliance of Concerned Teachers (ACT)-SUCs, membawakan orasi akademis bertajuk “Educate, Create, Organize: The Frontlines of Academic Unionism in the Philippines”. Beliau menyuarakan gerakan masif serikat pekerja dalam menuntut transparansi anggaran, melawan dampak tata kelola birokrasi korup yang memicu kebocoran dana pendidikan, serta memperjuangkan standar upah minimum kelayakan hidup bagi guru pemula (entry-level pay) sebesar P50.000.
Bagi seluruh peserta yang telah terdaftar dan mengikuti jalannya seluruh rangkaian seminar internasional ini secara penuh, panitia telah menyediakan layanan pengunduhan sertifikat resmi berbasis pencarian mandiri.
Silakan masukkan nama lengkap beserta gelar Anda melalui kolom pencarian sistem PGRI Power di bagian bawah halaman ini (atau klik tautan berikut) untuk mengunduh dokumen sertifikat digital Anda:
👉 [ KLIK DI SINI UNTUK LAYANAN UNDUH SERTIFIKAT SEMINAR INTERNASIONAL ]
Flyer Resmi International Seminar by PGRI 2026 bertajuk 'Cross-Cultural Understanding: Education and Teachers’ Union' yang menghadirkan panelis ahli dari serikat guru Indonesia, Malaysia, India, dan Filipina guna membahas penguatan mutu serta advokasi profesi pendidik.